Text
Menuju masyarakat partisipatif
Partisipasi sering dipahami secara keliru dan sepihak. Para perencana pembangunan, pemerintah dan aparatnya memahami partisipasi sebagai dukungan yang harus diberikan oleh rakyat pada keputusan, rencana pembangunan yang sudah diputuskan dari atas (top-down). Ukuran yang dipakai adalah sejauh mana rakyat menanggapi, melaksanakan dan bersedia berkorban baik waktu, tenaga maupun hidupnya untuk pembangunan. Bila rakyat tidak patuh dan tidak mau mendukung berarti tidak berpartisipasi. Pandangan ini memperlakukan rakyat sebagai objek pembangunan dan segala usul, aspirasi yang berasal dari rakyat (bottom up) dianggap sebagai keinginan belaka. Sedangkan para intelektual melihatnya lain: rakyat adalah tuan (subjek)
yang bisa menciptakan kebutuhan pembangunannya sendiri, Persepsi ini menempatkan rakyat pada posisi equal powership berhadapan dengan pemerintah dan aparat pembangunan. Idealnya rakyat diajak me- rencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi proses pembangunan. Dengan demikian partisipasi tidak menjadi retorik pembangunan belaka tetapi menjadi style of development.
| 0102.698 | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain