Text
Konsep Faustian Dan Kesedihan Dalam Novel Frankenstein Karya Mary Shelley
Explorasi ilmu pengetahuan secara berlebihan yang dilakukan oleh tokoh Frankenstein membawa penulis untuk menggunakan konsep faustian. Melanggar otoritas sang-Pencipta dengan menciptakan mahkluk berupa manusia, yang menjadi penghancur bagi dirinya. Ia mengidap kesedihan yang luar biasa perih. Akibat dari memendam rasa ini, tokoh Franskentein menyalahkan diri sendiri, tekanan batin dan sedih berkepanjangan. Analisis terhadap tokoh Monster, dapat disimpulkan sebagai simbol realisasi dari ilmu pengetahuan modem yang digabungkan dengan ilmu pengetahuan kuno. Kesepian dan tidak diakuinya tokoh monster oleh Frankenstein mengakibatkan nya menjadi alat kejahatan yang pendendam. Dari novel ini, kita dapat memetik suatu pembelajaran bahwa manusia pada dasarnya tidak merasa puas dengan apa yang telah dicapai dan betapa pentingnya kesadaran moral. Setiap usaha untuk mencapai kesempurnaan pada akhirnya akan berakhir pada kehancuran seperti pada tokoh Frankenstein yang mencoba untuk menggapai kehormatan dan kesempurnaan sehingga mengakibatkan tragedi. Dalam novel ini terlihat ia ingin menyampaikan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi alat penghancur apabila tidak diselingi dengan moral. Ketika manusia dibiarkan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan bereksperimen dengan sebebas-bebasnya akibatnya sangat berbahaya bahkan susah untuk dikendalikan.
Dosen Pembimbing : Dr. Albertine Miderop, MA
| skr1112.04 | 808.83 AUR k | UPT Perpustakaan | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain