Text
Analisis penggunaan kata wake dalam percakapan bahasa Jepang""
Kata wake terbagr menjadi dua golongan yaitu, kata wake yang termasuk ke dalam kelas kata futsuu meishi(kata benda biasa) dan yang termasuk dalam kelas kata keishiki meishi (kata benda semu / formalitas). Kata wake sebagai keishiki meishi tidak dapat berdiri sendiri dan idak memiliki makna leksikal yang nyata.
Dalam percakapan, kata wake sebagai keishiki meishi yang berbentuk frase "wake dadesu", "wake de wa nai" "wake ga nai" dan "wake ni wa ikanai" digunakan untuk mengungkapkan perasaan atau pikiran pembicara sebagai tanggapan atas
pernyataan yang dikemukakan oleh lawan bicaranya. Frase "wake da/desu" dan "wake de wa nai" dapat digunakan dibelakang kata kerja, kata sifat (I dan II) dalam bentuk sekarang maupun bentuk lampau, serta dibelakang kata benda +da/datta (to iu). Frase "wake de wa nai" digunakan untuk menyangkal suatu pernyataan yang disebutkan sebelumnya ataupun pernyataan yang disebutkan sesudahnya. Kata yang diikuti oleh frase "wake de wa nai" ini akan berarti bukan berarti -atau bukannya , sehingga kalimat yang mengandung frase ini, apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan selalu berbentuk 'meskipun - bukan berati.
Frase "wake ga nai digunakan untuk menyatakan ketidakmungkinan Kata yang berada didepannya tidak_bisa dalam bentuk lampau.Frase "wake ni wa ikanai" yang berada dibelakang kata kerja bentuk kamus atau bentuk-te iru mengandung arti tidak bisa melakukan apa yang disebutkan oeh kata yang berada didepannya, karena alasan tertentu.
Kata kerja bentuk-nai yang diikuti oleh frase "wake ni wa ikanai" mengandung pengertian harus melakukan apa yang disebutkan kata itu. Jadi, kata kerja bentuk-nai yang diikuti oleh frase "wake ni wa ikanai" menyatakan bahwa suatu pekerjaan harus dilakukan. Dengan kata lain, frase ini menunjukkan bahwa karena suatu alasan, pekerjaan itu menjadi suatu kewajiban.
(Dosen Pembimbing : (Dra. Yuliasih Ibrahim)
| skr00095 | 495.6 MAL a | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain